Silahkan add facebook-ku disini

FACEBOOK

Follow twitter-ku disini

@Arkun_7

Matur suwun

Kategori Artikel

By Ari Kuncoro. Diberdayakan oleh Blogger.

"ALAY" MERUSAK BAHASA

post on: Kamis, 08 Maret 2012
Teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini tumbuh demikian pesatnya, bahkan sampai ke desa pelosokpun. Pemakainyapun, ya ampun, anak TK sudah memegang HP untuk menginformasikan kepada orang tuanya bahwa sudah bisa dijemput pulang, maklum orang tua sekarang juga sudah begitu sibuk sehingga kadangkala lupa untuk menjemput anaknya. Demikian juga sarana komunikasi jejaring sosial, Facebook, twitter, dll yang sudah sangat meluas penggunaannya. Entah karena alasan menghemat pulsa atau memang telah terbiasa pakem bahasa gaulnya sehingga seringkali mereka menggunakan bahasa-bahasa singkatan yang unik atau bahasa lisan yang dipaksanakan untuk dituliskan. Contohnya peyutq cakit, tangen amu cay, amu d5na cih, dan masih banyak lagi.

Pakar linguistik dari UKP Surabaya Prof. Dr. Esther Kuntjara menilai sejumlah situs jejaring sosial di dunia maya seperti “facebook”, “twitter”, dan sejenisnya telah merusak bahasa. “Hal itu karena dunia maya menggunakan bahasa lisan yang ditulis, bukan bahasa tulis atau bahasa lisan, sehingga bahasa lisan yang ditulis dapat mengacaukan bahasa baku,” katanya dalam seminar “Language in The Online and Offline World (LOOW)” . Esther menyatakan bahasa lisan yang ditulis itu dikenal dengan istilah “alay.”Istilah bahasa ’alay’ itu justru ditemukan dari penelusuran melalui facebook dimana dicampuraduk antara tulisan, lisan, dan gambar, sehingga semuanya menjadi kacau. Kekacauan bahasa itu terlihat karena peletakan gambar yang seenaknya dan kadang emosi juga diungkapkan secara tidak tepat, misalnya, kalau menyatakan tertawa keras ditulis dengan simbol-simbol aneh, padahal mungkin saja penulis itu justru sedang marah, bukan tertawa, sehingga semuanya menjadi kacau atau rumit.

Anehnya, katanya, bahasa yang rusak itu justru dianggap sebagai kreatifitas. Penutur bahasa dalam dunia maya memang kreatif, tapi kalau rusak-rusakan apakah masih kategori kreatif ? Indonesia justru sangat tertinggal dalam kosakata baru dalam istilah teknologi informasi, sehingga orang mengambil bahasa aslinya seperti komputer, online, download, upload, website, dan sebagainya. diupayakan download diterjemahkan dengan unduh atau website dengan laman kalah cepat sosialisasi dibandingkan arus masuk informasi yang demikian pesatnya sehinggga tidak laku.

Prof. Ester menambahkan kerusakan bahasa dan mudahnya perubahan identitas dalam dunia maya itu melahirkan generasi yang berani bersikap dan asosial atau individualis. “Bagaimana tidak dikatakan asosial, karena ayah, ibu, dan anak mengetahui kegiatan masing-masing hanya lewat dunia maya. Di dalam facebook, si anak bilang saya sedang mandi, si ibu bilang kalau dirinya sedang makan, dan sebagainya. Semuanya lewat BB (blackberry),”

Apakah ada ya, kontribusi “alay” pada nilai rata-rata UN bahasa Indonesia secara nasional yang rendah ?

Sumber : adiwarsito.wordpress.com

HAK DAN KEWAJIBAN DALAM SEKEPING UANG

post on:
Dari sebuah buku terbitan MLC ‘ Quantum Writing’  pada hal 52 dipaparkan bahwa menulis banyak membawa manfaat ! Menurut Dr. Pennebaker bahwa menulis (1). menjernihkan pikiran (2). mengatasi trauma (3). membantu mendapatkan informasi dan mengingat informasi (4) membantu memecahkan masalah (5). membantu kita terpaksa harus menulis. Barangkali rekaman dari sebuah forum rapat berikut cocok kalau dikatakan bahwa saya menulis artikel ini  sangat membantu saya untuk mengingat informasi akan situasi rapat dan saya juga terpaksa harus menulis.

Dalam forum rapat saya sosialisasikan tentang surat edaran dari pemerintah daerah ke sekolah-sekolah yang menegaskan bahwa jam kerja pegawai negeri sipil (dimaksud guru) adalah 36,5 jam perpekan. Kalau jam kerja 6 hari perpekan berarti dalam satu hari setidaknya harus standby di sekolah sekitar 6 jam lebih.
Tanggapan verbal beragam. Ada pendapat, hal itu memang sudah kewajiban yang harus dilakukan karena guru tugasnya tidak hanya mengajar saja tetapi untuk efektivitas ketercapaian tujuan pembelajaran guru dituntut profesional. Membuat perencanaan, melaksanakan pembelajaran, penilaian dan perangkat administrasi lainnya yang melekat dan harus diselesaikan. Kalau standby diluar jam mengajar dengan tetap tinggal di sekolah, diisi membuat, memeriksa atau menyelesaikan perangkat administrasi maka tujuan pembelajaran insyaAllah akan tercapai.
Lain pendapat mengatakan bahwa hal tersebut diterima saja. Sebuah pendapat  menerima kondisi walaupun mungkin kalau tidak ada edaran dia akan lebih senang lagi tidak perduli tujuan tercapai atau tidak. Ketidakberdayaan pendapat menghampiri peserta lainnya, diam..tak ada pendapat. Barangkali setuju dengan salah satu pendapat diatas, atau bahkan ada pendapat yang tidak diutarakan karena ada kepentingan-kepentingan yang bisa banyak dia kerjakan kalau cukup hadir mengajar ! Kondisi tersebut tentu akan muncul dimanapun daerah yang menerapkan aturan seperti itu. Inilah sebuah gambaran baragam dan berwarnanya manusia dari pendapat, sikap, cara pandang bahkan dalam pengambilan keputusan.
Filosofi sekeping uang menggambarkan bahwa uang logam terdiri atas dua sisi yang masing-masing bergambar. Demikian juga selembar uang kertas pasti terdiri atas dua sisi yang bergambar pula. Sekeping dan selembar uang tersebut pasti tidak akan laku atau bahkan dianggap palsu bila hanya satu sisi saja yang bergambar, yang otomatis tidak bernilai.. Jadi sekeping mata uang atau selembar uang tersebut akan bernilai bila kedua sisinya bergambar sebagaimana mestinya.
Analog dengan rapat guru diatas, dua sisi keping atau lembar uang adalah hak dan kewajiban. Guru berhak untuk menuntut akan haknya, tetapi bersamaan dengan itu guru juga harus/wajib melaksanakan kewajibannya. Kalau kedua hal tersebut beriringan dilakukan maka seorang guru akan memiliki nilai. Saya selaku penanggungjawab pendidikan di sebuah lembaga pendidikan  yang banyak PNS DPKnya sangat setuju dengan aturan jam kerja dari Pemerintah Daerah 100% karena dengan meningkatnya kedisiplinan insyaAllah tujuan pembelajaran dan pendidikan akan meningkat !

Sumber : http://adiwarsito.wordpress.com

PENGETAHUAN : "ASAL MULA NAMA INDONESIA"

post on:

.
Kalau kita flash back walaupun kita belum lahir, sudahkah kita tahu sebenarnya nama Indonesia sebagai negara kita itu asal mulanya bagaimana ? (arti, pemberi nama dan kapan). Apapun profesi kita, akan lebih baik apabila kita mengetahuinya sebagaimana artikel berikut !

Pada zaman purba, kepulauan tanah air disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa Indoa menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai kulluh Jawi (semuanya Jawa).
Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).
Pada jaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur).
Eduard Douwes Dekker ( 1820 – 1887 ), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” ( Bahasa Latin insula berarti pulau). Nama Insulinde ini kurang populer.
Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan ( 1819 – 1869 ), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl ( 1813 – 1865 ), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:
“… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians”.
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maladewa. Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:
“Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago”.
Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826 – 1905 ) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.
Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Nama indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof. Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiƫr (orang Indonesia).
Identitas Politik
Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya :
“Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”
Di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924). Pada tahun 1925, Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Hindia Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch-Indie”. Tetapi Belanda menolak mosi ini.
Dengan jatuhnya tanah air ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda”. Dan setelah itu lahirlah bangsa Indonesia.

Sumber : http://adiwarsito.wordpress.com/

TRIK MENGGUNAKAN DATA FORM PADA MS. OFFICE EXCEL 2007

post on: Senin, 05 Maret 2012
Bagi anda yang baru beralih ke office 2007, mungkin anda akan bingung atau menyangka office 2007 tidak selengkap pada office 2003. Karena tiba-tiba tidak menemukan ikon form untuk mengisi data base yang anda kelola pada excel, sebenarnya office 2007 memiliki fitur yang lebih baik dari office 2003 dengan interface yang lebih hidup namun ada beberapa menu tidak ditampilkan pada tab ribonnya.Menurut hemat kami ini berkaitan dengan penghematan tempat karna office 2007 menggunakan interface 2D, sehingga jika semua menu ditampilkan akan memenuhi halaman Workbook tersebut.Sebagai contoh, anda ingin menggunakan excel untuk mengelola database anda, tentu anda akan cepat mengimput data, menedit atau menhapus serta mencari data jika menggunakan data form. Jika masalah anda seperti itu, bagaimana menampilkan dataform pada office 2007.Berikut akan kami berikan cara memunculkan data Form pada excel office 2007.
  1. Misalkan anda ingin menginput record data, seperti contoh Gbr.1

  2. Untuk menampilkan DataForm, klik button costumize quick access toolbar, klik More Commond, selanjutnya akan tampil kotak dialog excel option.

  3. Pada kota dialog excel option, klik button choose commond from.

  4. Pilih Command not in the ribon

     

  5. Klik pada commonds not in the ribon, lalu geser scrol bar sebelah kiri sampai anda melihat form.., kemudian klik ikon tersebut lalu klik button Add ditengah maka anda perhatikan ikon form sudah ada pada kolom sebelah kanan

     

  6. Setelah anda pastikan ikon form ada pada kolom bagian kanan, selanjutnya klik tombol OK, dan pada Quick access toolbar sudah terdapat ikon form, selanjutnya silahkan anda gunakan

  7. Untuk menggunakan, buka tabel database excel anda, tempatkan kursor di bawah field atau di areal data base, sebagai contoh lihat tabel database Gbr.1
  8. Kemudian klik ikon form yang terdapat di Quick Access Toolbar, maka data form akan muncul , silahkan anda isi seperti layaknya anda bekerja pada office 2003
    Selamat mencoba, semoga bermamfaat!!

Berotak London Berhati Masjidil Haram

post on: Sabtu, 14 Januari 2012
Julukan santri bukan muncul hanya karena julukan semata melain memiliki filosofi yang tersirat. Santri secara etimologis adalah seorang pelajar yang sedang menimba ilmu di pesantren. Namun, dalam artian yang lebih luas, terutama dalam konteks sosiologis (ta’rif istilahi), santri bermakna “setiap orang Islam yang relatif taat dalam menjalankan ajaran Islam” baik ia alumnus pesantren atau bukan. Filosofi yang terkandung dari kata Santri adalah:

1. Sabiqul Khoirot

Arti Sabiqul Khoirot adalah berlomba-lomba dalam kebaikan, sehingga santri diharapkan selalu menjadi terdepan,pelopor dan pengambil insiatif dalam hal kebaikan.

2. Amanah

Santri telah ditempa menjadi figur yang akan menjadi panutan dan pemimpin. Oleh karenanya santri mempunyai amanat yang harus dilaksanakan secara amanh. Amanat tersebut meliputi amanat fitrah, syari’ah, hukum, sosial, ekonomi dan pertahanan kemanan.

3. Naibul dan Niyabah Ulama’

Naibul artinya mengikuti, niyabah artinya pengganti. Sebagai seorang santri maka wajib hukumnya mengikuti apa yang diajarkan oleh gurunya;dalam hal ini yang dianggap guru oleh santri adalah para Ulama. Dengan konsistensi mengiku apa yang diajarkan dan mengamalkan maka dapat dipastikan suatu hari akan memegang tongkat estafet dari para Ulama.

4. Tarkul Ma’ashi

Tarkul Ma’ashi memiliki arti meninggalkan maksiat dalam menjalankan kegiatan/ aktivitas sehari-hari.

5. Ridhollah

Santri dalam berkelakuan diharapkan menjunjung tinggi kerihoan Sang Kholiq (Sang Pencipta) agar dalam berkelakuan terhindar dari perang kepentingan yang sekarang telah merajarela.

6. Istiqomah

Semua ilmu yang didapat, semua keahlian yang dimiliki baik softskill maupun hardskill membutuhkan konsistensi dan komitmen dalam pelaksanaannya. Santri diharapkan menanamkan nilai ini dalam kehidupannya.

Dari filosofi diatas apabila dibandingkan dengan karakter pemimpin amanah yaitu komitmen, konsistensi, kompetensi, integritas, visioner maka santri seharunya telah dapat menjadi pemimpin yang amanah. Hal ini dapat disimpulkan karena komitmen dan konsistensi tercakup pada nilai istiqomah; kompetensi dan integritas tetanam pada nilai amanah dan tarkul ma’asyi; visioner tertanam pada sabiqul khoirot dan ridlollah.

Banyak berpendapat bahwa santri hanya berkaitan dengan nilai-nilai agama, pantas hanya menjadi pemimpin dalam bidang agama. Akan tetapi anggapan tersebut keliru. Sekarang telah banyak pesantren yang mengikutkan pengetahuan umum sebagai standar dari pendidikannya. (Hartono, 2006) Bahkan beberapa pesantren telah memiliki lembaga pendidikan yang bertarafkan internasional.

Keberhasilan santri salah satunya dipengaruhi dari bagaimana pengasuh pesantren menanamkan nilai-nilai yang memotivasi santri-santrinya dalam menimba ilmu dan mengamalkan. Telah disebutkan bahwa salah satunya adalah menanamkan motto dari pesantren tersebut. Kali ini akan dibahas mengenai motto dari salah satu pondok pesantren besar di Jombang yaitu Ponpok Pesantren Darul ‘Ulum. Motto tersebut merupakan motto hasil pemikiran pengasuh dari pondok pesantren tersebut yaitu Dr. K.H. Musta’in Romly. Beliau menanamkan bahwa santri harus “Berotak London dan Berhati Masjidil Haram”.

Motto tersebut merupakan hasil dari penanaman filsafat trisula yang dijadikan filosofi pengajaran oleh Dr. K.H. Musta’in Romly .(Hasan Maskur, 2005) Trisula yang dimaksud adalah penyatuan nilai-nilai agama, nilai-nilai thoriqot (tasawuf), dan nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi. Beliau sendiri telah membuktikan keseriusannya dalam melaksanakan motto berotak London dan berhati Masjidil Haram. Terbukti dengan banyaknya lembaga pendidikan berkualitas yang ada di pesantren yang beliau asuh. Sudah ada 20 lembaga pendidikan dari Sekolah dasar sampai pendidikan tinggi dan diantaranya telah memiliki standar internasional. Dengan lembaga pendidikan tersebut diharapkan santri memiliki pondasi agama yang kuat dan memiliki kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi yang tak kalah pula karena tanggung jawab kemajuan bangsa Indonesia terletak bukan hanya pada syariat agamanya akan tetapi juga terletak kemajuan teknologi untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya.

Berotak London dan berhati Masjidil Haram. Mengapa bukan berotak Jepang atau berotak Jerman, atau berhati madinah? Menurut H. Hamid Muzakki santri Dr. K.H. Musta’in Romly, London merupakan symbol keuniversalan ilmu pengetahuan. Dimana masih mempertahankan budaya lama dan menyerap budaya baru yang lebih baik, termasuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sesuai dengan “al-muhafazhah ‘ala ‘al-qadim ash-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah” (memelihara nilai-nilai budaya klasik yang baik, dan mengambil nilai-nilai budaya baru yang dianggap lebih bermanfaat). London merupakan ibu kota Inggris, dan inggris merupakan Negara yang masih mempertahankan system kerajaan yang diwarisi sejak awal Negara tersebut berdiri. Akan tetapi inggris tetap jaya sampai sekarang karena tetap menyerap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan Masjidil Haram merupakan kiblat umat islam sehingga menggambarkan kedalaman ilmu agama dan ketaqwaan seorang santri.

Dengan London sebagai keuniversalan ilmu pengetahuan dan Masjidil haram sebagai iman taqwa, maka diharapkan seorang santri mengimbangkan ilmu pengetahuan agamanya dengan ilmu pengetahuan lainnya dan teknologi yang sedang berkembang. Dengan kata lain mengkolaborasikan IMTAQ dan IPTEK. Penanaman pemahaman yang kuat bahwa dibutuhkannya IMTAQ dan IPTEK pada santri menyebabkan santri memiliki motivasi kuat dalam belajar ilmu pengetahuan dan teknologi selain belajar pondasi agama sebagai yang utama. Santri mengetahui kemana harus melangkah. Santri dapat mengorganisasi bagaimana dia mendapatkan hal tersebut.

# diambil dari berbagai sumber untuk keperluan tugas Manajemen Organisasi #

Daftar Postinganku

“Jika tepat Masa, Ketika, Keadaan dan SIAPA, Cinta adalah Kuasa luar biasa yang tiada bandingannya”

Pengikut

Sarangan

Sarangan
Danau Sarangan